Sabtu, 20 Oktober 2012

Kegagalan Pasar dan Campur Tangan Pemerintah


Kegagalan pasar terjadi apabila mekanisme pasar tidak dapat berfungsi secara efisien dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini, mekanisme akan menyebabkan barang yang dihasilkan memnjadi terlalu banyak atau terlalu sedikit dan dalam hal yang sangat ekstrim kegagalan pasar akan menyebabkan pasar terjadi sehingga barang dan jasa tertentu tidak dihasilkan pasar tersebut. Esensi timbulnya kegagalan pasar timbul karena masyarakat tidak bertindak secara kooperatif, sebab perilaku kooperatiflah yang akan menyebabkan terjadinya kondisi Pareto Optimum.
Dalam hal terjadinya kegagalan pasar, maka pemerintah diharapkan untuk ikut campur tangan agar alokasi sumber ekonomi dapat tercapai secara efisien.
Kegagalan pasar terjadi karena adanya factor-faktor di bawah ini, yaitu:
1.     Adanya Common Goods
2.      Adanya unsure ketidaksempurnaan pasar
3.      Adanya barang public
4.      Adanya eksternalitas
5.      Adanya pasar tidak penuh (incomplete market)
6.      Adanya kegagalan inforamasi
7.      Unemployment
8.      Adanya ketidakpastian

Barang Bersama (common goods)
Dasar adanya system pasar persaingan adalah adanya hak pemilikan (property rights) yang memberikan hak pemilikan kepada setiap individu atas suatu barang sehingga ia dapat mengecualikan orang lain untuk memanfaatkan barang tersebut.
Untuk beberapa jenis barang, hak pemilikan tidak dapat diberikan kepada satu individu melainkan diberikan kepada sekelompok masyarakat, misalnya saja sebidanag padang rumput milik desa, dan sebagainya. Oleh karena manfaat dari barang-barang di atas tidak hanya dirasakan oleh satu insividu saja, maka tidak seorangpun yang dapat menjual. Dalam situasi ini, maka Hume menyatakan akan timbul apa yang disebut dengan tragedy kebersamaan ( tragedy of commons). Hume memberikan contoh sebidang tanha gembalaan yang dimiliki sekelompok orang yang dapat dimanfaat oleh anggota kelompok tersebut untuk menggembalakan ternaknya, akan tetapi tidak seorangpun secara individual dapat menjual hak kepemilikannya sehingga tidak ada pasar untuk tanah tersebut. Oleh karena setiap orang dapat menggembalakan tenaknya maka setiap orang akan cenderung menggunakan tanah tersebut secara berlebihan ( over used) sehingga tanah tersebut akan menjadi tandus dengan cepat. Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa dalam hal kekayaan yang diliki bersama maka perilaku yang optimal bagi setiap individu merupakan tindakan yang optimal dipandang dari segi kelompok. Masalah yang timbul dalam kasus kekayaan bersama karena ada dua factor, yaitu indivisibility dan jumlah kelompok masyarakat. Apabila jumlah anggota kelompok hanya dua orang, maka diantara kedau orang tersebut akan dibuat suatu perjanjian yang menagtur penggunaan kekayaan tersebut secara optimal tetapi apabila anggota kelompok semakin banyak maka biaya untuk memperoleh persetujuan menjadi semakin besar dan mahal.
Dalam hal kekayaan bersama (common property), apabila seseorang yang merasakan manfaat padang penggembalaan tersebut, berarti orang lain juga akan menerima manfaat tanpa harus ikut menanggung biayanya yang disebut dengan free riders. Free riders adalah suatu sikap yan tidak menyatakan dengan sebenarnya manfaat suatu barang atau jasa dengan maksud agar ia dapat memanfaatkan barang tersebut tanpa harus membayarnya atau ikut menanggung biaya pengadaan barang atau jasa tersebut. 
Dalam hal contoh di atas, menurut David Hume, maka pemerintahlah yang harus melakukan pengaturan atas penggunaan padang penggembalaan di atas. Jadi, peranan pemerintah adalah mengalokasikan penggunaan padang penggembalaan agar tercapai kepuasaan bersama yang optimal ( Pareto Optimal) dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.  Pengaturan yang dilakukan oleh pemerintah tentu saja membutuhkan biaya, dan karena itu maka pemerintah harus juga menetapkan sistem pembayaran yang sifatnya dipaksakan karena jelas setiap individu tidak bersedia untuk menanggung biaya pengaturan di atas. Sistem pembayaran paksaan tersebut adalah yang umumnya disebut dengan pajak.
Adanya Unsur Ketidaksempurnaan Pasar
Pada pasar persaingan sempuran maka setiap produsen maupun konsumen merupakan satu unit yang sangat kecil sehingga baik konsumen maupun produsen secara individual tidak akan dapat mempengaruhi harga dengan cara menambah atau mengurang barang yang dijual ayau barang yang dibeli.
Diagram 1 menunjukan kurva biaya marjinal (MC=Marginal Cost), kurva penerimaan (MR=Marginal Revenue) dan kurva penerimaan rata-rata (AR=Average Revenue) pada suatu pasar persaingan sempurna.produsen yang melaksanakan prinsip keuntungan yang maksimum akan menghsilkan barang X pada tingkat produksi dimana MC=MR, yaitu pada tingkat produksi OX1. Pada tingkat produksi sebesar X2 biaya marjinal sebesar BX2 sedangkan penerimaan marjinal sebesar AX2. Jadi dengan memproduksi X2 maka produsen memperoleh keuntungan AB sehingga tindakan yang logis bagi produsen adalah menaikkan jumlah barang yang dihasilkan. Sebaliknya, pada tingkat produksi OX3 biaya marjinal sebesar CX3 lebih besar daripada penerimaan marjinal DX3 sehingga produksi X3 menimbulkan kerugian bagi produsen dan tindakan yang logis diambil adalah mengurangi produksinya. Jadi tingkat produksi OX1 adalah yang optimal karen pada produksi X1 biaya marjinal sama dengan penerimaan marjinal.
Pada tingkat produksi OX1 tersebut alokasi sumber ekonomi tercapai secara efisien. Pada titik E, MC=P0 yang berarti produsen menetapkan harga sesuai dengan tambahan biaya yang diperlukan untuk menghasilkan satu unit terakhir (MC). Harga yang terjadi (P0)  digunakan seluruhnya untuk membayar factor produksi yang diperlukan untuk menghasilkan X1. Sebaliknya, konsumen bersedia membayara sesuai dengan yang ditunjukkan oleh kurva permintaan, yaitu sebesar P0 per unit barang (AR=P0).
P
 


     O                                X2               X1    X3                   Jumlah Barang X
 
B
 
C
 
A              E
 
P0
 
P
 
MR, AR
 







                                                        
Pasar Persaingan Sempurna
Pada tingkat harga P0 konsumen bersedia membayar harga tersebut untuk membeli barang X1. Jadi, di sini ju7mlah barang yang diminta produsen sama dengan harga yang mau dibayar oleh konsumen. Karena itu, kondisi alokasi sumber ekonomi yang efisien terjadi apabila MC = AR = P. Pada pasar persaingan sempurna, keinginan konsumen dan produsen selaras pada jumlah brang sebanyak OX1.
            Pada pasar monopoli, produsen yang mempunyai prinsip keuntungan yang maksimal akan mengahsilkan barang X sebanyak OX1, yaitu tingkat produksi di mana MC=MR, pada gambar di bawah ini produksi sebesar OX1 tersebut, harga yang dipungut sebesar OP1, sedangkan biaya yang diperlukan untuk menghasilkan output X1 hanya sebesar CX1 yang berarti produsen memperoleh keutungan monopolis.
         Harga




C
 
B
 
O
 
A
 
MR
 
AC
 
AR
 
MC
 
O                                                                      X1     X2                           X
 
        P2
 
      P2
 
      P1
 


Pasar Monopoli
            Efisiensi Penggunaan Sumber  ekonomi dan produksi tercapai pada titik B yaitu pada tingkat produksi OX2 dan harga OP2. Pada titik B tersebut konsumen bersedia membayar harga barang sebesar Rp BX2 atau sebesar Rp OP2 dan biaya yang diperlukan produsen untuk menghasilkan tambahan barang terakhir (MC) juga sebesar Rp OP2.

Monopoli Alamiah
            Ada beberapa jenis barang yang hanya dapt diproduksikan oleh satu produsen saja. Betapa pun pemerintah berusaha untuk menghapus monopoli pada produksi satu industri, akan tetapi persaingan di antara produsen yang ada akan menyebabkan hanya satu produsen saja yang mampu bertahan.

Harga
 


   MC



 
 
   AC



 
 
   A



 
 
   B



 
 
   P0



 
 
   P1



 
 
   P3



 
 
   P2



 
 
     O                   X2                                   MR X3                                  X1               AR
 











  








   Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa permintaan akan barang X sangat kecil, sehingga kurva permintaan (AR) memotong kurva biaya rata-rata (AR) pada bagian yang menurun. Apabila produsen berproduksi pada tingkat produksi yang oleh masyarakat dianggap efisien, yaitu pasa MC=AR produsen akan menghasilkan OX1 unit barang, dan menjula barng X dengan harga OP0. Tetapi pada tingkat produksi OX1 produsen akan rugi sehingga tingkat produksi OX1 tidak dapat berlangsung dalm waktu yang lama atau dalam jangka panjang. Pada OX1, penerimaan total sebesar OX1AP0 sedangkan pengeluran total sebesar OX1BX1. Sehingga terdapat kerugian sebesar BAP0P1. Apabila barang tersebut harus diproduksikan sebanyak OX1 unit, maka tidak akan ada seorang produsen pun yang mau menghasilkannya. Oleh karena itu pemerintah harus campur tangan yang dapt diwujudkan dalm beberapa bentuk. Campur tangan pemerintah dapat dengan cara memproduksikan barang tersebut oleh pemerintah, atau produksi barang X dapat diserahkan kepada pihak swasta dengan memberikan ganti rugi sebesar POABP1, sehingga produsen swasta tidak menderita rugi karena besarnya subsidi tersebut memnyebabkan penerimaan total sama dengan pengeluaran total (TR=TC).
Barang Publik
Beberapa jenis barang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, akan tetapi tidak seorangpun yang bersedia menghasilkannya atau mungkin dihasilkan oleh pihak swasta akan tetapi dalam jumlah yang terbatas, misalnya pertahanan, peradilan, dan sebagainya. Jenis barang tersebut dinamakan barang public murni yang mempunyai dua karakteristik utama, yaitu penggunaannyan tidak bersaingan (nonrivalry) dan tidak dapat diterapkan prinsip pengecualian (non excludabilty).oleh karena oihak swata tidak mau menghasilkan barang public murni, maka pemerintahlah yang harus menghasilkannya agar kesejahteraan seluruh masyarakat dapat ditingkatkan.
Eksternalitas
Masalah lain yang menyebabkan kegagalan pasar dalam mengalokasikan factor-faktor produksi secara efisiem adalah adanya apa yang disebut dampak sampingan atau eksternalitas. Eksternalitas timbul karena tindakan konsumsi atau produksi dari satu pihak mempunyai pengaruh terhadap pihak yang lain dan tidak ada kompensasi yang dibayar oleh pihak yang menyebabkan atau kompensasi yang diterima oleh pihak  yang terkena dampak tersebut. Jadi dua syarat terjadinya eksternalitas, yaitu:
1.      Adanya pengaruh dari suatu tindakan, dan
2.      Tidak adanya kompensasi yang dibayarkan atau diterima
Dalam perekonomian terdapat empat kemungkinan eksternalitas, yaitu:
1.      Konsumen-konsumen, yaitu tindakan seorang konsumen yang menimbulkan eksternalitas bagi konsumen lain, misalnya contoh permainan piano.
2.      Konsumen-produsen, yaitu tindakan seorang konsumen yang menimbulkan eksternalitas (positif atau negative) terhadap produsen, misalnya olahraga yang dilakukan buruh menyebabkan mereka menjadi sehat sehingga produktivitas meningkat dan  menguntungkan produsen.
3.      Produsen-konsumen, contohnya adalah pabrik yang menyebabkan polusi sungai sehingga mengganggu penduduk yang menggunakan air sungai tersebut.
4.      Produsen-produsen, contohnya adalah seperti dikemukakan di atas, di mana sebuah pabrik yang menimbulakan polusi air mengakibatkan kenaikan biaya produksi perusahaan lain yang mengunakan air sebagai salah satu faktor produksi.
Adanya Pasar Tidak Lengkap (Incomplete Market)
Adanya Kegagalan Informasi
Pada beberapa kasus masyarakat sangat membutuhkan informasi yang tidak dapat disediakan oleh swasta, misalnya saja prakiraan cuaca. Para petani, pelaut sangat membutuhkan informasi mengenai prakiraan cuaca. Dalam hal ini, maka pemerintah harus menyediakan informasi cuaca yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Kegagalan Pemerintah (Government Failures)
Adanya kegagalan pasar merupakan salah satu sebab mengapa pemerintah harus turun tangan dalam perekonomian agar kesejahteraan masyarakat dapat tercapai secara optimal. Walaupun demikian, tidak selamanya campur tangan pemerintah menyebabkan peningkatan kesejahteraan masyarakat, bahkan secara sistematis senantiasa terjadi kegagalan pemerintah (goverrnent failures). Ini disebabkan karena pemerintah melaksanakan fungsi alokasi tidak dengan cara yang efisien. Ketidakefisienan pemerintah disebabkan karena 4 hal, yaitu: informasi yang terbatas; pengawasan yang terbatas atas reaksi pihak swasta; pengawasan yang terbatas atas perilaku birokrat; hambatan dalam proses politik.
1.      Informasi yang terbatas
2.      Pengawasan yang terbatas atas reaksi swasta
3.      Pengawasan terbatas atas perilaku birokrat
4.      Hambatan dalam proses politik
 Analisis Ekonomi Mengenai Birokrasi
Pemerintah mempunyai peranan yang sangat besar dalam pencapaian alokas\i sumber ekonomi yang efisien. Akan tetapi, birokrat yang tersiri dari banyak organ pemerintah tidaklah melaksanakan fumgsi pemerintah tanpa mempetanyai kebijakan pemerintah sebagaimana dikemukakan oleh Weber. Pandangan Weber ini dimodifikasi oleh Niskanen yang menyatakan bahwa birokrat, sebagaimana dengan orang lain, adalah pihak yang memaksimumkan kepuasannya, yaitu gaji, jumlah karyawannya, reputasi dan status sosialnya. Karena fungsi utilitas birokrat berkaitan dengan besarnya anggaran, maka seorang birokrat yang berusaha mencapai kepuasan yang maksimum berarti pula ia merupakan orang yang memaksimumkan anggaran pemerintah. Karena seorang birokrat bukanlah seorang yang netral terhadap proses pembuatan anggaran pemerintah. Oleh karena itu, birokrat cenderung akan menghasilkan barang atau jasa yang yang lebih besar dari[ada yang seharusnya, sehingga terjadi inefisiensi dalam penggunaan sumber ekonomi oleh pemerintah.
Kritik terhadap teori perilaku birokrat yang yang cenderung mengajukan dana/anggaran yang lebih besar daripada tigkat peoduksi output yang secara sosial adalah optimal (socially optimal), datang dari beberapa ekonom, diantaranya Jackson yang berpendapat bahwa fungsi utilitas birokrat tidaklah sekedar memaksimumkan anggaran, tetapi lebih komplekss terahadap itu. Birokrat juga mempunyai kepuasan dalam melayani masryakat atau melaksanakn tugas bagi kepentingan umum.

Tidak ada komentar: